Sabtu, 13 September 2008

Ibu..
Ku sisip puisi kasih buatmu
Ku renung gambaran wajahmu
Ku terkesima...
Ku terkedu...
Begitu besar pengorbananmu
Kau umpama mentari
Menyubur kesegaran alam
Yang sungguh mendamaikan
Begitu asyik talkala menikmatinya

Ibu...
Utuhnya semangatmu
Seutuh pepohon cengal
Yang begitu erat mendakap bumi
Seluas terbentangnya lautan berkocakan
Setinggi kemuncak awan
Yang tak bisa ku capai dan ku jamah
Dengan lambaian kudrat
Yang tak mampu kupupuk
Menyaingi rumpunan
Duri dugaan cabaran yang kau lalui

Ibu...
Kau tersandang dua gelaran
Kau ibuku...
Kau jua ayahku...
Sungguh kagum ternobat begitu
Kau peneraju dalam mengangkat
Keluluhan jiwa- jiwa hawa yang berguguran
Yang ditiup gerhana kesah dugaan dan takdir
Lalu sukma itu mekar
Berkembang indah
Umpama mekarnya kuntuman- kuntuman
Mawar berduri
Yang bukan hanya indah di tatap
Harum dihidu
Tapi yang nyata sukar dijamah
Kaulah satu ibuku
Permata dalam menyinar
Kekelaman atma yang luluh berkecai
dalam keruduman takdir
Kaulah segalanya...



Faradi Rohani
( adyduka bertautsepi )

2 ulasan:

ilHAm UyAIsHa berkata...
Ulasan ini telah dialihkan keluar oleh pengarang.
ilHAm UyAIsHa berkata...

salam ady,

mother murupakan insan yang teristimewa dalam hidup ini. rindu. andai dapat ku mengentasnya beserta kuntuman mawar kudus dari pohon kasmaran lalu membiarkan ia hanyut di segara sampai pulau temasek, diri akan sentiasa berdiri di balik jendela sambil menunggu sang pawana yang membisikkan berita bahawa sudah terkirimnya rindu hamba pada insan yang dipanggil mother.

aisya